Lintas Jaluko Jambi -Muaro Jambi- Pelaksanaan proyek rehabilitasi ruang kelas di SD Negeri 223 Nebang Parah, Desa Nyogan, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, memicu polemik hangat.
Proyek yang menggunakan dana APBD 2025 tersebut disorot tajam karena diduga dikerjakan asal-asalan.
Ketua Aliansi Wartawan Siber Indonesia (Awasi) Kabupaten Muaro Jambi, Feriansyah angkat bicara mengenai kondisi miris yang menimpa sekolah tersebut.
Jurnalis senior yang dikenal vokal membela hak rakyat kecil ini menyayangkan lemahnya pengawasan terhadap kontraktor.
"Miris ya, kenapa komponen vital seperti rolling door (penyekat ruangan) itu bisa luput dari pengawasan dan tidak terpasang. Ini menyangkut kenyamanan belajar siswa," tegas Feriansyah kepada wartawan, Jum'at 10 April 2026.
- Desak Pengusutan oleh APH
Pria yang akrab disapa Feri ini mendesak agar pihak kontraktor, CV Mitra Hara Konstruksi segera menyelesaikan tanggung jawabnya.
Tak hanya itu, ia meminta instansi terkait untuk melakukan audit investigatif terhadap aliran dana proyek tersebut.
"Kami meminta Inspektorat dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera mengusut proyek ini. Jangan sampai anggaran negara habis, tapi fasilitas yang diterima sekolah tidak sesuai spesifikasi," sebut Feri dengan nada tegas.
- Realisasi 100 Persen, Fisik Belum Tuntas
Berdasarkan data yang dihimpun, proyek rehabilitasi kategori sedang dan berat ini memiliki pagu anggaran mencapai Rp 289 juta. Meski laporan pembayaran dikabarkan telah rampung 100 persen, kenyataan di lapangan berkata lain.
Hingga saat ini, penyekat ruangan (rolling door) yang seharusnya memisahkan 2 ruang kelas ini belum juga dipasang.
Saat ini sekat ruang kelas hanya menggunakan deretan rak buku usang. Proses belajar mengajar menjadi tidak kondusif karena suara yang saling beradu.
"Menurut informasi, barangnya dijanjikan datang seminggu setelah tukang selesai, tapi sudah empat bulan sejak ganti tahun, rolling door itu tidak pernah sampai," ujar salah satu sumber di sekolah.
- Kualitas Bangunan dan Krisis Meja-Kursi
Selain masalah penyekat, Feri juga menyoroti rusaknya proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) senilai Rp 198 juta. Padahal bangunan tersebut masih tergolong baru, namun keramik di bagian teras sudah ditemukan pecah-pecah.
Kondisi semakin memprihatinkan karena tidak adanya mebeler (furnitur) baru. Siswa masih terpaksa menggunakan meja dan kursi lama yang sudah lapuk.
"Dinas Pendidikan punya anggaran miliaran untuk mebeler pada 2025, mencapai Rp 5,04 miliar. Sangat tidak masuk akal jika sekolah yang baru dibangun atau direhabilitasi justru tidak punya kursi dan meja yang layak," tambah Feri.
- Respons Dinas Pendidikan
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi, Kasyful Imam menyatakan akan segera mengevaluasi pihak ketiga.
"Kami akan memanggil pihak penyedia jasa terkait masalah rolling door yang belum terpasang tersebut," ujarnya singkat kepada wartawan belum lama ini.
Di sisi lain, staf Perencanaan Dinas Pendidikan, Amin berkilah bahwa SDN 223 Nebang Parah belum mendapatkan alokasi mobiler di tahun 2025, karena keterbatasan dana dan baru akan dianggarkan pada tahun 2026 ini.
"Ketidaksinkronan antara pembangunan fisik dan penyediaan fasilitas pendukung ini kini menjadi rapor merah bagi pembangunan infrastruktur pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi,"tandas Ketua Awasi Kabupaten Muaro Jambi, Feriansyah mengakhiri keterangannya.(Red-feri).
Social Header